Hidayah untuk Anastasia

Kul Sharif Russia

Kul Sharif Masjid, Russia

Kul Sharif Masjid, Russia

oleh Arie Pujiwati

Izinkan saya bercerita tentang seorang sahabat saya dari Rusia. Sebut saja namanya Anastasia. Awal tahun 2018, Anastasia tiba-tiba datang ke gedung lab saya untuk menanyakan di mana saya dan muslimat Indonesia melakukan wudhu dan shalat. Setelah saya tunjukkan lokasinya, langsung saja saya keluarkan semua kepo saya.

“OK, please explain me, who is going to pray?”

Ia menjawab: “Me”.

Dan saya tanya balik,

“What?? Why do you want to take a pray??”

-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:-:

Pertama mengenalnya, ia sungguh unik. Ia tak mengkonsumsi alkohol, makanannya halal, akhlaqnya sangat baik. Namun ia tak pernah jelaskan agamanya. Saya rasa wajar bila ia tidak beragama, toh ia dari Rusia, bekas negara komunis.

Pada bulan Ramadhan tahun 2016, Anastasia ikut puasa bersama kami. Ia tak mengeluh harus puasa dari jam 2 pagi sampai dengan jam 19. Ia bangun untuk sahur. Jika kesiangan dan waktunya singkat untuk sahur, ia hanya bisa minum susu dan tetap berpuasa. Saat saya tanyakan alasannya kenapa, secara singkat ia bilang:

“I just want to fast, that’s all.”

Sampai di sini, saya masih berkesimpulan kalau Anastasia hanya ingin berpuasa sebagai bagian dari lifestyle nya. Walau Anastasia seorang Russian, tapi ia bukan atheis.

Anastasia terlahir dari keluarga muslim, namun pengaruh komunis telah menguasai keluarganya. Ayahnya berpesan, jangan menjadi manusia religius.

Anastasia telah lama kagum pada Prophet Mohammed PBUH. Menurutnya, Rasulullaah SAW adalah seorang yang super smart dan selalu membawa kedamaian dan persatuan. Belum ada tokoh yang mampu menandingi kehebatan Rasulullaah SAW. Rasulullaah SAW adalah sosok yang lembut namun berwibawa.

Puncaknya, ketika pamannya yang cukup dekat dengannya meninggal dunia di akhir tahun 2017. Musibah ini mendorong Anastasia untuk merenung dan berkontemplasi tentang hakikat kehidupan dan kematian. Apakah selamanya ia akan seperti ini? Bagaimana jika ia mati nanti? Dan ia pun tak tahu kapan akan mati, layaknya sang paman yang sejatinya masih relatif muda.

Dan akhirnya, Anastasia pun memperbarui imannya. Ia yakinkan dirinya untuk berikhtiar menjadi muslimah yang baik, sedikit demi sedikit. Anastasia belajar sholat sendiri, lantunan tilawahnya sungguh merdu, ia telah hapal beberapa surat dalam Al-Qur’an. Balutan jilbab yang ia pakai untuk shalat menjadikan wajahnya kian cantik dan bersinar.

Untuk shalat fardhu di kampus, ia harus menyeberang untuk shalat bersama kami di gedung lab kami tercinta. Ia pernah berkata, “walau sy tau bahwa shalat boleh dijama’ karena kita sibuk, tapi menurut saya hal itu tidak bisa tiap hari sehingga tetap harus sempatkan shalat.”

Sesekali ia mengajak saya berdiskusi terutama tentang ibadah, dunia Islam, atau aqidah. Darinya saya belajar Mazhab Hanafi yang berkembang di negaranya, sejarah Rusia, dan kehidupan muslim di seluruh dunia. Saya tak memaksa dia untuk mengikuti mazhab Syafi’i yang dianut mayoritas muslim Indonesia.

Sebagai sahabatnya, saya tidak bersusah payah mengajarinya tentang ibadah karena ia sangat cerdas dan senang belajar. Hanya pertanyaan-pertanyaan cabang seputar dari ibadah yang kerap ditanyakan. Atau Islamic scholar’s yang recommended untuk disimak.

Beberapa waktu kemudian Anastasia bercerita:

“sesungguhnya kakek saya seorang muslim yang taat. Dan ia selalu berdoa, agar  cucunya menjadi muslim yang baik dan mendirikan sholat. Dan aku bersyukur Allah SWT telah memilihku sebagai jawaban doa kakekku..” 

Melihat Anastasia, saya sungguh menjadi yakin bahwa kekuatan doa adalah senjata seorang muslim. Kakeknya berdoa bertahun-tahun hanya untuk mendoakan salah seorang cucunya menjadi muslim yang baik penerus trah keluarganya. Ia temukan hidayah itu bukan di negeri Islam, namun di negeri yang bahkan tidak religius namun indah dalam etika. Negeri itu bernama Jepang.

Saya semakin yakin, bahwa hidayah dan iman itu bukan hanya milik manusia di negeri Islam mayoritas. Di negeri muslim minoritas ini, hidayah itu pun turun, bahkan untuk seorang gadis dari negara yang dahulunya komunis.

Sebagai muslimin yang sedari dulu memeluk Islam, kita pun harus banyak berkontemplasi tentang hakikat hidup manusia. Setiap kematian hendaknya menjadi perenungan tentang kehidupan akhirat yang lebih kekal abadi daripada dunia. Terlebih bagi penulis yang mendengar langsung cerita ini dari Anastasia.

sumber gambar: https://tripedia.info/attraction/kul-sharif-mosque/

Advertisements